Selasa, 28 Mei 2013
Kamis, 23 Mei 2013
Blended Learning
Pembelajaran Berbasis Blended Learning
Sekarang ini, kita telah memasuki masa yang disebut sebagai abad pengetahuan (knowledge age). Tahapan perkembangan budaya manusia terdiri atas empat tahap, yaitu: abad agraris (sebelum tahun 1880), abad industri (1880–1985), abad informasi (1955–2000), dan abad pengetahuan (1995–sekarang) (Galbreth, 1999). Tahapan tonggak-tonggak sejarah peradaban manusia tersebut dilalui melalui belajar sepanjang hayat. Pada abad pengetahuan, berbagai karakteristik yang melingkupi kehidupan sangat berbeda dengan karakteristik kehidupan pada abad industri dan abad pertanian. Pada abad pengetahuan teknologi utama yang menjadi landasannya adalah komputer, pada abad industri berupa mesin, sedangkan pada abad pertanian adalah bajak. Galbreth (1999) lebih lanjut mengidentifikasi karakteristik perkem-bangan ekonomi berdasarkan teknologi utama, ilmu yang digunakan, tujuan, keluaran, bentuk organisasi, pekerja utama, dan sifat-sifat produksinya disajikan pada tabel 1.
Gambar 1. Transormasi utama ekonomi dan pendidikan (Adaptasi dari Galbreth, 1999)
Tahapan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu berjalan mengikuti rumus deret hitung kemudian, pada periode belakangan berjalan menurut rumus deret ukur. Mula-mula lambat, makin lama makin cepat, dan sekarang ini, percepatan revolusi peradaban manusia dalam belajar sangat mengagumkan, yang belum pernah ditemui pada abad sebelumnya. Tabel 1. Karakteristik perkembangan ekonomi (Galbreth, 1999)
Natural Approach
Theory of language
Krashen
and Terrell see communication as the primary function of language, and
since their approach focuses on teaching communicative abilities, they
refer to the Natural
Approach as an example of a communicative approach. The Natural Approach
"is similar to other com
municative
approaches being developed today" (Krashen and Terrell 1983: 17). They
reject earlier methods of language teaching, such as the Audiolingual
Method, which viewed grammar as the central component
of language. According to Krashen and Terrell, the major problem with
these methods was that they were built not around "actual theories of
language acquisition, but theories of something else; for example, the
structure of language" (1983: 1). Unlike proponents of
Communicative Language Teaching, however, Krashen and Terrell give
little attention to a theory of language. Indeed, a recent critic of
Krashen suggests he has no theory of language at all (Gregg 1984). What
Krashen and Terrell do describe about the nature of language emphasizes
the primacy of meaning. The importance of the vocabulary is stressed,
for example, suggesting the view that a language is essentially its
lexicon and only inconsequently the grammar that determines how the
lexicon is exploited to produce messages. Terrell quotes Dwight Bolinger
to support this view:
The quantity
of information in the lexicon far outweighs that in any other part of
the language, and if there is anything to the notion of redundancy it
should be easier to reconstruct a message containing just words than one
containing just the syntactic relations. The significant fact is the
subordinate role of grammar. The most important thing is to get the
words in. (Bolinger, in Terrell 1977: 333).
Language
is viewed as a vehicle for communicating meanings and messages. Hence
Krashen and Terrell state that "acquisition can take place only when
people understand
messages in the target language (Krashen and Terrell 1983: 19). Yet
despite their avowed communicative approach to language, they view
language learning, as do audiolingualists, as mastery of structures by
stages. "The input hypothesis states that in order for acquirers to
progress to the next stage in the acquisition of the target language,
they need to understand input language that includes a structure that is
part of the next stage" (Krashen and Terrell 1983: 32). Krashen refers
to this with the formula "I + 1" (i.e., input that
contains structures slightly above the learner's present level). We
assume that Krashen means by structures something at least in the tradition of what such linguists as Leonard Bloomfield and Charles Fries meant by structures. The
Natural Approach thus assumes a
linguistic hierarchy of structural complexity that one masters through
encounters with "input" containing structures at the "1 + 1" level.
We
are left then with a view of language that consists of lexical items,
structures, and messages. Obviously, there is no particular novelty in
this view as such, except that messages are considered of primary
importance in the Natural Approach. The lexicon for both perception and
production is considered critical in the construction and
interpretation of
messages. Lexical items in messages arc necessarily grammatically
structured, and more complex messages involve more complex grammatical
structure. Although they acknowledge such grammatical structuring,
Krashen
and Terrell feel that grammatical structure does not require explicit
analysis or attention by the language teacher, by the language learner,
or in language teaching materials.
Neuro-Linguistic Programming
About NLP
Seperti ungkapan Dr.Richard Bandler (co-creator NLP), mendesain struktur internal seseorang, layaknya mendesain sebuah ruangan. Kita bisa memilih apa yang ingin kita letakan di situ, kita bisa merubah letak, visual, suara, pengalaman, bau, rasa, di ruangan tersebut. Menggunakan representasi kelima indera kita, struktur internal seseorang dibangun.
Oleh sebab itu, sebuah proses perubahan di NLP adalah proses mendesain atau mendesain kembali struktur internal seseorang, sesuai yang diinginkan. Di NLP, hal ini disebut sebagai modeling. Yangmana artinya adalah seseorang dengan model internal yang tidak bermanfaat atau tidak sesuai keinginannya memodel atau mencontoh model internal yang sesuai yang diinginkannya.
NLP sering disebut sebagai teknologi yang mempelajari operasional dunia secara subyektif, karena dunia internal seseoranglah yang kemudian mempengaruhi pengalamannya di dunia eksternal. Jadi prinsip sederhananya adalah bagaimana mendesain secara subyektif dunia internal seseorang, untuk mendapatkan hasil yang diinginkan di dunia eksternal.
Neuro sederhananya adalah cara berpikir. Cara mengambil informasi dari dunia luar, cara memfilternya, cara memproses informasi, cara memproduksi tindakan, dan lain-lain. Dalam ‘neuro’ terdapat berbagai hal yang menjadi referensi kita berpikir dan bertindak, yang disebut Peta Realita dan Model Dunia. Keduanya berdasarkan apa yang pernah kita pelajari dan ketahui sepanjang hidup, karena itu bersifat subyektif. Dengan merubah cara berpikir atau cara kita memproses informasi, memperluas peta realita, memperkaya model dunia, kita pun merubah perilaku dan merubah hasil kita.
Linguistic adalah bahasa. Cara memproses bahasa yang kita inderakan, dan bahasa yang kita pakai baik secara internal (inner talk) atau eksternal (berbicara). Bahasa mempengaruhi pikiran, dan bahasa dipengaruhi cara berpikir. Merubah cara kita memproses bahasa dan berbahasa, kita pun merubah tindakan kita, dan merubah pula hasil kita.
Programming adalah berbagai program atau strategi kita dalam berpikir dan berperilaku. Ini adalah tahapan-tahapan kita dalam berpikir dan bertindak. Ada strategi yang efektif ada yang tidak. Perubahan hasil sangat tergantung dari program atau strategi kita. Rubah strategi, rubah hasil.
NLP singkatnya adalah teknologi berpikir, berbahasa, berstrategi, bertindak, untuk mencapai hasil yang kita inginkan. Dalam NLP terdapat berbagai konsep, teknik, dan tools untuk itu.
Problem Based Learning (PBL)
PBL
Ada beberapa definisi dan intepretasi terhadap
Problem Based Learning (PBL). Salahsatunya menurut Duch (1995):
Problem Based Learning (PBL) adalah metode pendidikan yang medorong siswa untuk mengenal cara belajar dan bekerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia nyata. Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumber-sumber pembelajaran.
Problem Based Learning (PBL) adalah metode pendidikan yang medorong siswa untuk mengenal cara belajar dan bekerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia nyata. Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumber-sumber pembelajaran.
SUGGESTOPEDIA
Sesuai dengan kebijakan pendidikan di Indonesia,
bahasa Inggris adalah bahasa kedua (L2) atau bahasa asing pertama yang
diajarkan di sekolah-sekolah formal, mulai dari jenjang sekolah dasar sampai
perguruan tinggi. Pelajaran bahasa Inggris tersebut secara jelas tercantum di
dalam kurikulum dan mendapatkan jam atau porsi yang cukup besar. Hal ini
menandakan bahwa pelajaran bahasa Inggris dianggap sebagai pelajaran yang
penting.
Banyak ahli yang mengemukakan pendapatnya mengenai
kondisi pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di sekolah. Pada umumnya
mereka sepakat bahwa pengajaran bahasa Inggris di sekolah belum bisa dikatakan
berhasil sebagaimana mestinya. Hal ini salah satunya terbukti secara nyata dari
penguasaan bahasa Inggris para siswa yang masih sangat rendah.
Menurut M.F.
Bharadja (1990:61-62), kekurangberhasilan pengajaran bahasa Inggris di
Indonesia sebagian besar disebabkan oleh adanya pertentangan antara hakikat
belajar bahasa asing (HBA) yang “tidak kenal kompromi” dengan kebijakan yang
menentukan pelaksanaan (KMP) proses belajar mengajar. HBA dianggap tidak kenal
kompromi karena untuk melakukan pengajaran bahasa asing harus dilakukan sesuai
dengan prinsip-prinsip dasar yang tidak bisa ditawar-tawar, misalnya jumlah
siswa dalam satu kelas tidak boleh terlalu
besar, guru harus seorang profesional, frekuensi pertemuan harus tinggi,
harus menggunakan metode atau pendekatan pengajaran bahasa yang sesuai, dan
sebagainya. Sementara keadaan di lapangan menunjukkan bahwa KMP tidak bisa
memenuhi tuntutan HBA tersebut, sehingga pengajaran bahasa Inggris di Indonesia
cenderung berjalan keluar dari prinsip dasar di atas. Karena kondisi di
Indonesia yang tidak mendukung maka
pengajaran bahasa Inggris terpaksa dilaksanakan dalam kelas yang jumlah
siswanya sangat banyak, kemampuan guru-guru bahasa Inggris yang sangat
memprihatinkan bahkan banyak guru bahasa Inggris yang bukan berasal dari
disiplin ilmu bahasa Inggris, dan penggunaan metode atau pendekatan pengajaran
bahasa yang sudah ketinggalan zaman.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

